Skenario Berkunjung ke Toko Peralatan Prakarya

Setiap kali berkunjung ke toko apapun yang menjual perlengkapan prakarya. Sudah terbentuk kebiasaan yang kurang lebih sama di tiap tokonya. Ini salah satu contoh cerita saya, yang selalu terjadi di tiap toko.

Sepulang dari acara crafty days kemarin, saya mampir ke Crayon. Sebenarnya setiap kali saya ke Bandung selalu mampir kesini, dan tiap kali mampir tidak pernah pulang dengan tangan kosong.
Antara membeli barang-barang yang belum saya punya, atau membeli barang dengan warna berbeda seperti pita, benang, glitter, apapun yang tercipta banyak warna. Alasan paling pas, “Kalo warnanya gak lengkap gak enak ngerjainnya”

Langkah pertama pasti akan mengelilingi toko dari lorong paling ujung ke lorong ujung satunya. Biasanya SPGnya akan nyamperin dan bertanya, “Cari apa Mba?” Jawaban saya selalu “Gak tau Mba mau liat-liat dulu” walaupun sebenarnya ada yang dicari tapi pasti menjadi tujuan terakhir, hilang fokus.

Biasanya langkah yang kedua saya akan berhenti lama di bagian yang menarik perhatian saya entah barang baru atau warna baru atau size baru. Kali ini perhatian saya tertuju ke deretan kertas panjang warna-warni yang sedang ditata oleh SPGnya di rak. Dan bisa saya pastikan terakhir kali saya kesini belum ada (Belanja makin tenang kalau barangnya belum punya, dan paling tidak kalo datang lagi ada alasan belanja untuk ngelengkapin warna)

Kertas warna-warni ini tersedia dalam 3 sizenya yang berbeda lebar 3mm, 5mm, dan 10mm. Saya membeli perwakilan dari tiap size. Membeli perwakilan warna atau size menjadi langkah ketiga yang selalu terjadi. Belum tahu apa yang akan dibuat dan bisa pakainya atau tidak, tapi tetap pokoknya gak bisa beli satu. Dan dalam kasus Crayon ini selalu terjadi berlebihan karena ada alasan tambahan Bandung jauh, jarang-jarang kesini, nanti kalau kurang carinya repot (padahal jangankan kurang sampe dibuat aja udah prestasi)

20140226-012029.jpg

Langkah keempat adalah, menghampiri kembali SPGnya dan bertanya “Mba perlengkapan yang dibutuhkan apa lagi sih?” Ternyata ada jarum untuk membantu menggulung (sebenarnya manual juga bisa) dan ada cetakan untuk sizenya. Jadi setelah digulung letakkan di cetakannya sesuai size yg diinginkan. Cetakan ini juga untuk mengukur sizenya supaya tidak terjadi perbedaan yang terlalu signifikan antara tiap gulungan. Jadi jarum dan dan cetakan masuk keranjang.

Langkah kelima kembali menghampiri SPGnya lagi dengan pertanyaan “Mba ada buku tutorialnya gak?” Lalu mulai lama pilih-pilih buku.

20140226-012732.jpg

Langkah ke enam adalah lagi-lagi menghampiri SPG memberi catatan belanja dan contoh warna, minta tolong dicarikan, sambil menunggu di kasir (ini sebenernya plan A-nya). Kadang kalau datang tanpa berbekal sample, smua buyar dan terlupakan.

Selesai belanja pulang, mengatur semua belanjaan sesuai kategorinya adalah langkah ke tujuh.

Sedangkan langkah ke delapan adalah bagian additional saja, tidak menjadi bagian dari skenario wajib (padahal ini bagian paling penting) yaitu PRAKTEK. Seringkali semua yang sudah dibeli disimpan rapih, dan tidak keluar lagi dari tempat penyimpananya sampai beberapa bulan atau tahun. Hanya untungnya kebetulan dalam contoh cerita yang saya pilih kali ini saya praktekan (pencitraan belaka) Sepulang dari belanja saya penasaran dan membuat bunga ini πŸ™‚

20140226-015300.jpg

Sebenarnya sifat labil,banyak mau dan hilang arah di toko peralatan prakarya itu cuma terjangkit pada saya atau kalian juga? πŸ™‚